Kamis, 01 Oktober 2020

Peristiwa Bersejarah G30S PKI Dan 7 Pahlawan Revolusinya Secara Lengkap

G30S/PKI adalah peristiwa besar yang terjadi di Indonesia. Tragedi itu terjadi pada tanggal 30 September 1965. Peristiwa ini sekaligus menjadi titik awal jatuhnya kekuasaan Presiden Ir Soekarno dan kemudian digantikan oleh Jenderal Soeharto. 

Kemudin Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh menjadi dalang tragedi tersebut. Jatuhnya Presiden Soeharto pada 1998 membuat versi lain dalang peristiwa berdarah ini yang sebelumnya tabu dibicarakan kemudian mengemuka ke publik. Dalang yang disebut antara lain konflik internal Angkatan Darat, Soekarno, Soeharto, dan unsur asing terutama Dinas Intelijen Amerika Serikat atau CIA.

Para korban dari petinggi militer yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi hingga kini terus dikenang masyarakat Indonesia. Jasad mereka ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Profil Pahlawan Revolusi

Profil Pahlawan Revolusi G30S PKI

Tujuh perwira TNI Angkatan Darat gugur dalam Gerakan 30 September 1965 atau dikenal dengan G30S/PKI. Tujuh perwira tersebut yakni Jenderal TNI Achmad Yani, Letjen S Parman, Letjen R Suprapto, , Letjen MT Haryono, Letjen DI Panjaitan, Mayjen Soetojo Siswomihardjo, dan Kapten Pierre Andries Tendean.

1. Jendral TNI Achmad Yani

Jendral TNI Achmad Yani

A Yani sempat pergi ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan di Kansas. Ahmad Yani memiliki keahlian dalam mengenai operasi gabungan yang pertama kali dipraktikan untuk membasmi Permesta di Sumatra Barat dalam Operasi 17 Agustus.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, Ahmad Yani diculik dan dibunuh, di waktu itulah jenazah A Yani dibawa ke Lubang Buaya. Ia gugur di usia 43 tahun. Pada tanggal 5 Oktober 1965, ia dianugerahi menjadi Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan menjadi Anumerta. Kini, namanya diabadikan sebagai sejumlah nama jalan di berbagai daerah di Indonesia.

2. Mayjen S Parman

Mayjen S Parman

S Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Selama hidupnya, ia pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat pada 1951. S Parman pernah menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta pada bulan Desember 1945, Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya (1949), Kepala Staf G (1950), hingga Atase Militer RI di London (1959).

S Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat mayor jenderal. Ia gugur pada 1 Oktober 1965 dalam pemberontakan G30S/PKI dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Untuk mengenang jasa S Parman, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di berbagai daerah.

3. Letjen R Soeprapto

Letjen R Soeprapto

R Soeprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, tanggal 20 Juni 1920. Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, ia sempat ditawan dan dipenjara, namun berhasil lolos. Terakhir ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatra.

Pada 1 Oktober 1965, ia diculik dan dibunuh. Jenazahnya juga dimasukan ke dalam Lubang Buaya. Setelah jenazahnya ditemukan, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di berbagai daerah.

4. Donald Izacus (D.I) Panjaitan

Donald Izacus (D.I) Panjaitan

D.I Panjaitan lahir di Sitorang, Balige pada 10 Juni 1925. D.I Panjaitan merupakan sosok yang suka musik klasik dan merupakan penganut Protestan yang taat.

Sesudah pengakuan kedaulatan, ditunjuk sebagai Kepala Operasi di Medan dan lalu dipindahkan ke Territorium II (Sumatra Selatan). D.I Panjaitan pernah menjabat Atase Militer di Bonn (Jerman Barat), selanjutnya ia ditugaskan lagi sebagai Deputy I KASAD dengan pangkat Kolonel.

Sewaktu menjabat Asisten IV/Men Pangad, ia mengikuti pendidikan Associate Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat selama enam bulan mulai Desember 1963 sampai Juni 1964.

Ia juga gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Setelah wafat, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal Anumerta, dengan diberi gelar pahlawan revolusi.

5. Mayjen Soetojo Siswomihardjo

Mayjen Soetojo Siswomihardjo

Siswomihardjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 1922. Sebelum menjadi tentara, ia sempat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Kabupaten Purworejo, namun berhenti dengan hormat pada 1944. Pasca-proklamasi kemerdekaan, ia masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian kepolisian yang berkembang jadi Corps Polisi Militer (CPM). Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto yang ketika itu menjadi Komandan Polisi Tentara (PT). Sutoyo terus mengabdikan diri di lingkungan CPM usai pengakuan kedaulatan. Pada 1954, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer. Dua tahun kemudian ia bertugas di London sebagai Asisten Atase Militer RI untuk Inggris.

Setelah kembali ke tanah air, ia mengikuti Kursus C Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung. Kemudian ia diangkat menjadi Pejabat Sementara Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkeh AD). Berkat pengetahuan yang cukup dan pengalaman yang luas di bidang hukum, pada 1961 Sutoyo diserahi tugas sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat (Irkeh/Ojen AD). Sutoyo juga diculik dan jenazahnya dibuang di Lubang Buaya. Sama seperti pahlawan revolusi lainnya, jenazah Sutoyo kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

6. Letjen MT Haryono

Letjen MT Haryono

MT Haryonp adalah salah satu pahlawan revolusi yang lahir di Surabaya, 20 Januari 1924. MT Haryono menguasai empat bahasa (Indonesia, Inggris, Jerman, dan Belanda). Berkat kemampuan tersebut, ia sering dibutuhkan dalam perundingan dengan pihak Belanda maupun Inggris. MT Haryono sempat bertugas di Belanda sebagai Atase Militer Indonesia. Ia kembali ke Indonesia untuk beragam tugas hingga akhirnya pada 1964 diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi Deputy III Menteril Panglima Angkatan Darat.

Pada 1 September 2020, MT Haryono menjadi salah satu jenderal yang akan diculik juga. Namun, pada saat kejadian, ia sempat melawan, dan tertembak di tempatnya. Jenazah MT Haryono juga dibawa ke Lubang Buaya, dan dimakamkan di TMP Kalibata

7. Pierre Andries Tendean

Pierre Andries Tendean

Tendean juga merupakan Anggota TNI Angkatan Darat dengan pangkat Kapten, ia lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Tandean merupakan ajudan Menko Hankam Jenderal AH Nasution yang berhasil lolos dari penculikan pada tragedi G30S. Pierre Tendean diculik dan ditembak mati di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pria yang meninggal di usia 26 tahun itu dimakamkan di TMP Kalibata. Pierre juga dianugerahi penghargaan sebagai Satya Lencana Saptamarga.

Monumen Pancasila Sakti G30S

Monumen Pancasila Sakti G30S

Monumen Pancasila Sakti adalah salah satu tempat yang bersejarah dari peristiwa G30S (Gerakan 30 September) / PKI. Monumen tersebut berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta, tepatnya satu kompleks dengan Museum Pengkhianatan PKI. Monumen tersebut dibuat oleh maestro seni Indonesia, Edhi Sunarso, dan dibangun atas usulan Soeharto.

Tepat bertepatan dengan Hari Peringatan Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 1973, monumen tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya, monumen tersebut dibangun pada pertengahan Agusutus 1967. Monumen Pancasila Sakti menempati lahan seluas 14,6 h. Di monumen ini, terdapat satu patung Garuda berukuran besar. Di depannya, ada patung enam jenderal dan satu kapten di militer yang gugur dalam G30S. Mereka dikenal dengan sebutan Pahlawan Revolusi. Di lokasi inilah terdapat sumur tua kering yang kedalamannya 12 m dan lebar 75 cm.

Monumen Pancasila Sakti dibuka pada hari Selasa - Minggu (pukul 09.00 - 16.00). Hari libur nasional, monumen tetap buka. Dan untu biaya tiket masuk: Dewasa Rp4.000,00 perorang, tetapi jika rombongan membayar Rp3.000,00 perorang dengan syarat minim 40 orang. Pelajar/Mahasiswa cuma membayar Rp2.500,00, dan untuk rombongannya Rp2.000,00 perorang dengan syarat minimal 40 orang. Setiap HUT TNI 5 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November gratis.

Kata Kata mutiara G30S/PKI

Berikut adalah kata-kata mutiara untuk mengenang pengorbanan pahlawan revolusi peristiwa G30S / PKI :

Tidak ada kematian yang sia sia, begitu juga dengan kematian pahlawan kita di tanggal 30 September, mereka mati atas nama bangsa indonesia.

Tuhan tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum Bangsa itu mengubah nasibnya Sendiri

Bung Karno pernah berkata 'JasMerah', jangan sekali kali lupakan sejarah, Karena itu, kita haruslah faham bagaimana penghianatan dan kekejaman yang dilakukan PKI kepada bangsa indonesia, Cegah Pemikiran PKI!

Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator - Hos Tjokrominoto

Jagalah namamu, jangan sampai disebut pengkhianat bangsa - Jendral Gatot Subroto

Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang - Bung Karno

Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.

Orang yang benar-benar hebat dalam sejarah tidak pernah ingin menjadi hebat untuk diri mereka sendiri.

Yang mereka inginkan hanyalah kesempatan untuk berbuat baik bagi orang lain dan dekat dengan Tuhan. - Muhammad Ali

Dunia adalah tempat yang berbahaya untuk hidup, bukan karena orang-orang yang jahat, tapi karena orang-orang yang tidak berbuat apa-apa. - Albert Einstein

Tuhan Mahadamai, Dia sumber Kedamaian, tiada kedamaian tanpa kehadiran-Nya di lubuk hati Manusia. -Quraisy Syihab

Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan untuk dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita. - Mohammad Hatta

Pahlawan masa kini adalah pemuda yang tidak galau dengan perubahan zaman, tapi dia yang terus bergerak mencari dan menjadi solusi dan inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya. - Imam Nahrawi

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapapun juga. - Bung Tomo

Peringatan G30S/PKI, Jangan Biarkan Masa Kelam ini Terulang Kembali di Masa Depan!."

Bung Karno pernah berkata 'JasMerah', jangan sekali kali lupakan sejarah, Karena itu, kita haruslah faham bagaimana penghianatan dan kekejaman yang dilakukan PKI kepada bangsa indonesia, Cegah Pemikiran PKI!

Gerakan 30 September penyiksaan pahlawan sejati yang telah membela negeri, sungguh menyayat hati.

Sudah cukup negeri terkoyak, biarkan garuda terbang berkepak, bersatulah lindungi negeri dengan kompak.

Peristiwa Gerakan 30 September tersebut adalah sejarah yang paling tragis menimpa Indonesia. 7 pahlawan Revolusi diatas tersebut wajib kita kenang selalu untuk menjadikan suatu pelajaran yang berharga bahwa penghianatan tidak akan menang pada akhirnya.

0 komentar

Posting Komentar