Selasa, 04 September 2018

Industri Kreatif Batik di Era Digital Milenial


Bukan  hal yang  mengejutkan lagi bagi Irma Susanti sebagai pemilik Identix Batik Didatangi para pembatik yang hampir tutup usaha nya lantaran terbelit hutang maupun hal lain nya, . Selain persaingan usaha batik yang kian hari makin ketat  ini disampaikan oleh Irma Susanti, pemilik Identix Batik dalam sebuah talkshow interaktif dengan tema "Industri Kreatif di Era Digital" di Altitude Lounge, Hotel Aston Inn Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah.

seperti yang kami kutip dari liputan6.com Menurut Irma Susanti, kekurangan dana ratusan juta, berbanding terbalik dengan banyaknya stok batik di gudang. Itu karena barang tidak terserap pasar.

"Karenanya, bantuan yang kita berikan berupa order," kata Irma.

Order itu bukan sekadar membeli batik yang ada di dalam gudang. Order juga bisa berupa desain untuk diproduksi dan kemudian hasilnya dibeli tunai. Pemasukan seperti ini menjadi modal untuk membangkitkan usaha lagi. Inilah  roh kerjasama dalam industri kreatif.

"Batik tradisional dengan design seperti parang baris, sidomukti memang masih ada pasarnya. Namun, untuk kalangan orang tua saja yang menjadi penikmat. Tapi, pasar batik dengan desain kekinian  pasarnya lebih  besar," kata Susanti.

Pasar milenial dan corporate sangatlah besar. Logo kantor apapun bisa jadi materi desain.

"Untuk merebut pasar batik harus up to date. Ada yang seperti kimono. Desain kimono untuk pasar di Jepang," katanya.

Pasar industri kreatif memang terus bergerak dinamis. Pelaku harus responsif.

Dukungan Industri Logistik Bagi Pelaku Industri Kreatif

Suasana Talkshow interaktif dengan tema "Industri Kreatif di Era Digital" di Altitude Lounge, Hotel Aston Inn Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah. (foto: Liputan6.com/felek wahyu)

Data di Kementerian Perindustrian, pertumbuhan industri kreatif di Indonesia mencapai 7 persen per tahun. Pada tahun 2014-2015, nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif mencapai Rp 111,1 triliun. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor 11,81 persen, diikuti fesyen dengan pertumbuhan 7,12 persen, periklanan sebesar 6,02 persen dan arsitektur 5,59 persen.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Akumandiri Jawa Tengah, Madiyo Sriyanto menyebutkan bahwa kemampuan produksi harus diikuti pengenalan pasar dan produk yang dimiliki.

"Produsen harus lebih jeli melihat pasar, sehingga menghasilkan harga kompetitif yang menguntungkan," kata Madiyo Sriyanto.

Dunia usaha juga telah merambah ke kaum muda. Wirausahawan muda makin banyak bermunculan.

Anak-anak muda dengan ide-ide kreatifnya menghasilkan hal bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat.

Perkembangan industri kreatif tak luput dari dukungan industri logistik. Mayland Hendar Prasetyo, Head of Marketing Communication JNE mengatakan, JNE dan UKM adalah mitra, sehingga JNE concern dalam memberikan dukungan dengan semangat tagline Connecting Happiness.


Manfaatkan Medsos,Bisa Ekspor Batik ke Luar Negeri 


Pasar ekspor untuk industri batik Indonesia ke berbagai negara di dunia terbuka sangat lebar. Lewat pesatnya kecanggihan teknologi masa kini, para perajin batik Indonesia sanggup mengirim batik ke negara-negara pemesan tersebut. Hal itulah yang juga coba dimanfaatkan pemilik identik batik, Irma Susanti.

Sejumlah negara di Eropa, Asia telah menjadi pembeli hasil karya milik Irma. “Produksi kami 70 piece setiap hari. 40 persen diantaranya ekspor ke luar negeri, produk dipesan Turki, Jepang, Singapura, dan negara lainnya,” ujar Irma kepada Kompas.com, Senin (3/9/2018). Dikatakan Irma, pembeli dari negara-negara luar mempunyai model tersendiri dalam memilih produk.

Untuk menarik minat pembeli, Irma mengaku harus mempelajari dan meriset dulu perkembangan fashion di negara pembeli, berikut perilaku masyarakatnya. Melalui riset kecil-kecilan itu, ia mengaku tahu apa yang diinginkan pembeli. Ia pun mencoba melakukan modifikasi batik ke dalam berbagai fashion kekinian, salah satunya hijab batik.

 Di sela itu, dia mempersiapkan packaging dan branding produk yang menarik. Pola itulah yang kemudian secara perlahan menarik minat para pembeli. “Di era industri kreatif ini, distruption itu berlaku. Yang membatasi kita berkembang itu mindset diri kita sendiri. Bisnis kami terbantu digital sehingga bisa memasarkan ke luar negeri,” ujarnya. Melalui digital, Irma kemudian membranding produk batik di website, Instragram, serta akun promosi media sosial. Ia rutin menawarkan produk-produknya di dunia maya.

Post Top Ad

MAIN MENU