Kerajinan Tong Sampah, Kreativitas dari Balik Jeruji Lapas

Di kutip dari wikipedia, Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga permasyarakatan. Meskipun terpidana kehilangan kemerdekaannya, ada hak-hak narapidana yang tetap dilindungi dalam sistem pemasyarakatan Indonesia.

Di kalangan masyarakat, narapidana (napi) dipandang sebelah mata. Mereka dianggap sebagai orang yang jahat dan bahkan acapkali label tersebut masih disematkan meski mereka telah keluar dari Lapas.

Dalam kondisi kehilangan kemerdekaan sementara waktu dalam rangka menjalani hukuman, para narapidana biasa di pekerjakan untuk membuat berbagai macam kerajinan untuk mendapatkan upah yang di gunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder mereka. Kemampuan membuat kerajinan tersebut ini didapat dari pelatihan kerajinan yang napi terima di dalam Lapas, dimana mendapat pendidikan dan pengajaran serta upah adalah salah satu dari hak Narapidana seperti yang telah di bahas di atas.

Kerajinan tong sampah serbaguna itu kini banyak diminati masyarakat. Tidak hanya di Pekalongan, tapi ada juga peminat yang berasal dari kota - kota lain seperti Tangerang, Jombang, bahkan Jakarta. "Kan orang Pekalongan banyak juga yang tinggal di kota lain, jadi mungkin mereka kangen dengan nuansa batik asal kampung halamannya. Karenanya mereka rela memesan, meski dari jauh," tutur Anang Saefullah, seorang pegawai di Lapas tersebut.



Pembuatan kerajinan tong sampah oleh napi tersebut dimulai pada Oktober 2014, saat sebuah stasiun TV lokal, Batik-TV, mengadakan pelatihan membatik kepada para napi. Latihan tersebut dimaksudkan untuk memberdayakan serta menggali potensi para napi, sekaligus mengangkat budaya lokal Pekalongan sebagai Kota Batik.


Seusai diadakannya pelatihan itu, Anang melihat banyak napi dengan bakat potensial yang dapat menjadi bekal mereka setelah keluar dari Lapas. Melihat hal tersebut, ia beserta jajaran Lapas memutuskan untuk terus mengembangkan potensi tersebut. "Akhirnya kami dan beserta jajaran Lapas menganggarkan modal untuk memproduksi tong sampah yang desain dan animasinya dilukis oleh para napi," jelas Anang.

Tak disangka, produk yang dipamerkan di ajang Pekan kreatif Nusantara di Pekalongan tersebut banyak diminati masyarakat. Selain karena memang tong sampah adalah barang yang di butuhkan oleh publik, baik perseorangan ,maupun instansi, desain dan motif yang dibuat memang sangat menarik mata masyarakat umum.

Selain membuat kerajinan tong sampah sendiri, para napi di Lapas ini juga menerima pembuatan tong sampah sesuai desain yang diminta oleh pemesan. "Awalnya memang desain lukis tong sampah hanya batik, namun kini sudah berkembang ke desain animasi juga," imbuh Anang lagi.

Kini para napi tersebut kebanjiran order. Apalagi kerajinan tong sampah tersebut dibandrol dengan harga yang relatif murah. Anang menyebut, untuk tong sampah ukuran 30 liter dihargai Rp 100.000, adapun untuk ukuran 45 liter dengan harga Rp 125.000 dan untuk ukuran 60 liter seharga Rp 200.000. Ia menambahkan, tong sampah tersebut akan terus dikembangkan, sembari terus menggali para potensi penghuni Lapas.

0 Response to "Kerajinan Tong Sampah, Kreativitas dari Balik Jeruji Lapas"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel