Kamis, 06 Juli 2017

Sempe Dari Kampung Abar, Nilai Budaya Yang Tinggi Dari Tepi Sentani

Papua - Keindahan danau Sentani di Papua yang mengagumkan telah mengiringi budaya kerajinan gerabah tanah liat (sempe) ini di sebuah desa di tepiannya, Kampung Abar. Desa ini Bisa diakses menggunakan kapal motor dari Pantai Khalkote, tepian Danau Sentani.


Seperti kebanyakan kampung di Papua, Kampung Abar ini terkenal juga oleh keramahan penduduknya. Dan ada sisi lain di bidang kerajinan yang membuat mereka menonjol di banding wilayah lainya di Papua, yaitu masyarakat kampung Abar memiliki keterampilan dalam mengolah tanah liat menjadi gerabah.

Kerajinan tanah liat (sempe) ini merupakan tradisi turun temurun, karena tanah liat mudah didapatkan di Kampung Abar. Tanah liat tersebar meluas di seputar kampung dengan beragam warna. Hasilnya adalah gerabah dengan gradasi warna yang beragam mulai dari kuning, merah, cokelat, dan hitam.

Konon kerajinan gerabah pertama kali datang di papua pada masa Neolitik, di perkenalkan oleh penutur Austronesia yang datang ke wilayah Papua pada saat itu. Gerabah merupakan alat dapur berbentuk wadah terbuat dari tanah liat yang dibakar dan memiliki fungsi untuk memasak berbagai makanan, seperti papeda, keladi, ubi, ikan dan sayur. Gerabah juga dapat digunakan untuk menyimpan sagu dan air.

Masyarakat Kampung Abar, Sentani menyebut hele untuk gerabah berukuran besar dan sempe untuk gerabah berukuran kecil. Di Papua saat ini hanya tinggal masyarakat Kampung Abar saja yang tetap eksis memproduksi sempe, sedangkan di wilayah lainnya tradisi tersebut sudah punah.

Sempe gerabah Papua dari Kampung Abar ini pembuatannya dilakukan dengan cara tradisional. Gerabah dibuat dari tanah liat yang kedap air, tetapi jenis tanah liat yang berwarna kuning. Tanah ini kemudian harus dicampur pasir halus sehingga tanah liat ini akan tampak bagus jika berminyak dengan butiran halus dengan daya lentur yang kuat.

Tepi Sentani

Tanah yang akan digunakan sebelumnya direndam dengan air agar pori-pori atau butiran tanah liat kena air, kemudian di injak-injak sehingga menjadi adonan yang kental elastis. Tanah yang sudah jadi ini kemudian diambil dan dibentuk sesuai dengan keinginan dan ukurannya. Setelah itu diukir dengan berbagai motif sesuai dengan budaya masing-masing. Pengerjaan sepenuhnya dengan menggunakan tangan, tanpa alat bantu apapun. Proses pembakaran dilakukan secara terbuka tanpa pengovenan.

Dalam pekembangnnya sekarang ini terjadi pergeseran cara pembuatan dan model akibat teknologi pembuatan. Penggunaan peralatan modern menghasilkan gerabah lebih halus dan indah, meski penggunaan motif asli Sentani tak pernah luput dari setiap karya sempe Kampung Abar.

Jika dilihat secara kasar hasilnya lebih baik yang merupakan buatan mesin, tetapi dari segi budayanya karya yang di buat oleh tangan manusia memiliki nilai filosifi budayanya sangat tinggi dan nilai jualnya juga tinggi. Umumnya warga di Sentani umunya masih menggunakan yang buatan tangan dengan kualitas rendah tapi nilai budaya yang lebih tinggi.

Post Top Ad

MAIN MENU