Kamis, 06 Juli 2017

Metamorfosa Gulma Rawa Menjadi Ragam Anyaman Purun

Anyaman Purun,. Lahan rawa selama ini dianggap menjadi tempat gula tumbuh dengan subur. Meski dengan segala inovasi kreativitas masyarakat sekitar sekaligus untuk menjaga lingkungan telah menghasilkan banyak jenis kerajinan berbahan baku Gulma Rawa, seperti misalnya kerajinan dari Eceng gondok. Di daerah sumatera sendiri memiliki jenis gulma lain yang diberdayakan sebagai kerajinan, yaitu Purun.

metaformosa Gulma Rawa

Purun (Eleocharis dulcis) merupakan jenis gulma yang tumbuh subur menempati lahan rawa yang masam. Gulma ini menjadi salah satu tumbuhan indikator bagi lahan rawa bersifat sulfat masam. Gulma ini termasuk jenis rumput dengan daun berbentuk garis dan berongga. Tumbuhan ini pada awalnya dianggap sebagai tumbuhan pengganggu, karena merusak ke elokan visual dari rawa dan tidak memiliki nilai ekonomi.

Sewaktu mengangkat Purun/Baayun dari dalam air (tempat tumbuhnya) akan terbawa juga bagian-bagian lain dari tanaman secara lengkap, seperti bunga, daun, tangkai, tunas, dan akar. Oleh karena, untuk mempersiapkan bahan anyaman hanya diperlukan bagian tangkai daunnya, maka bagian yang lain harus disisihkan. Setelah bagian-bagian yang tidak dibutuhkan disisihkan, tangkai Purun/Baayun kemudian bisa segera dicuci dan dibilas hingga benar-benar bersih. Bila perlu gunakan air sabun atau air kaporit agar pekerja yang menanganinya selalu dalam kondisi sehat, mengingat kondisi tempat tumbuh Purun/Baayun yang kotor.

Bagian dari purun yang dapat digunakan menjadi kerajinan Anyaman Purun adalah bagian tangkai daun, maka setelah dilakukan pemanenan purun dilakukan pemisahan tangkai daun dengan bagian lainnya kemudian dicuci hingga bersih, mengingat lahan tumbuhnya adalah lahan asam berlumpur. Setelah itu dilakukan penjemuran, yang terkadang dibantu juga dalam proses pengeringannya dengan mesin press. Setelah kering barulah dilakukan pemisahan dan pembelahan anyaman sesuai ukuran yang diperlukan untuk membuat kerajinan Anyaman Purun.

Purun dapat diolah menjadi beragam kerajinan Anyaman Purun yang menarik seperti tikar, sandal, tas tangan, dompet, tempat tisu dan sebagainya. Di dalam Dekranasda Kalimantan Selatan ,S atu unit tas yang merupakan perpaduan purun dan bahan sintetis dihargai Rp 75 ribu, tas tutup untuk belanja atau meletakkan suvenir dipatok hanya Rp 35 ribu. Sementara dompet dengan aplikasi kancing dari batok kelapa, dijual seharga Rp 100 ribu. Khusus tempat koran, yang bagian tengahnya terbuat dari bahan kulit kayu, bisa Anda peroleh seharga Rp 200 ribu. Bahkan dalam galeri butik online anda bisa menemukan produk tas wanita yang terbuat dari purun kombinasi kain katun dengan harga 850.000 rupiah.
foto oleh : fotokita

Post Top Ad

MAIN MENU