Jumat, 07 Juli 2017

Limbah Daun Ini Disulap Menjadi Kerajinan Cantik

Pernahkah Anda membayangkan jika guguran daun yang berserakan di jalanan akan bernilai ekonomis yang tinggi? Di tangan sekelompok mahasiswa Unpad ini, limbah daun tersebut disulap menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Tidak tanggung-tanggung, berbagai produk kerajinan tangan sudah dikreasikan mereka, mulai dari binder, frame foto, tempat alat tulis, hingga tudung lampu.
kerajina limbah daun

Kerajinan tangan dari limbah daun tersebut dikreasikan oleh Chandra Tirta, Toni Cahyono, Ryan Prasetya, Kadek Dwi Wahyuni, dan Inggil Sholata Sya. Ide kreasi dari limbah daun ini muncul saat melihat banyaknya limbah daun yang dikumpulkan oleh pembersih kampus. Kala itu, Chandra berpikir bahwa daun yang dikumpulkan tersebut terlalu sayang untuk dibuang.

“Kita lalu berpikir limbah daun ini bagusnya diolah jadi apa, akhirnya muncullah ide untuk dijadikan kerajinan tangan,” beber Chandra.

Mengapa diolah menjadi kerajinan tangan? Toni menjawab pertanyaan tersebut. Ide ini muncul tatkala Toni yang asli Karangasem, Bali membeli oleh-oleh khas Pulau Dewata berupa buku yang sampulnya terbuat dari serat daun pisang. Melihat peluang ekonomi yang baik, mereka pun mencoba mengkreasikan limbah daun yang ada.

Chandra menuturkan, agar berbeda dengan kerajinan tangan yang sudah ada, limbah daun tersebut diusulkan untuk dibentuk motif batik. Usul pun diterima. Menggunakan limbah daun kupu-kupu, daun tanaman jagung, serta daun pisang, mereka mendesain motif batik Megamendung khas Cirebon pada produknya.

Alasan penggunaan tiga daun tersebut didasarkan pada struktur daun yang lebar sehingga mudah dipola. Sementara pemilihan motif batik Megamendung ialah karena motif ini lebih gampang dipola dibanding motif batik lainnya.

“Saat ini kita masih menggunakan motif Megamendung. Ke depan kita akan coba mendesain motif batik lainnya,” kata Chandra.

Meskipun tampak sederhana, proses pembuatan motif batik ini cukup rumit dan detail. Agar lebih kuat, daun ditempel dengan lem perekat berkualitas tinggi. Proses pengeleman ini juga dilakukan beberapa kali agar lem lebih merekat di daun.

Pada proses pembuatan tersebut, keempatnya bekerja sama dengan pengrajin asal Gianyar, Bali. Pada tahap awal, mereka mempresentasikan proses pembuatan kerajinan tersebut kepada para pengrajin. Setelah itu, mereka hanya berperan sebagai konseptor produk sementara proses pengerjaan dilakukan oleh para pengrajin.

Chandra optimis, produk kerajinan yang dihasilkannya tidak banyak ditiru orang. “Ini produk handmade berkualitas, yang pengerjaannya membutuhkan keahlian dan ketelitian tinggi. Sehingga akan sulit ditiru orang,” kilahnya.

Kini, produk yang diberi nama “Kerabat Ulin Cantik” atau “Kreasi Hebat Limbah Daun Cap Batik” ini sudah dipasarkan ke beberapa wilayah di Indonesia. Produk mereka pun siap dipasarkan ke pasar Internasional. Melihat peluang bisnis yang masih belum banyak pesaingnya, keempatnya terus melakukan inovasi melalui berbagai desain baru.

Post Top Ad

MAIN MENU