Kamis, 06 Juli 2017

Kreasi Alat Musik Bambu Pengantar Award Bagi Agustinus Sasundu

Musik Bambu,. Agustinus Sasundu (65), adalah seorang warga desa Likuang, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara yang mendapatkan Penghargaan Kehati Award sebagai pemenang untuk kategori Citra Lestari Kehati 2014. "Saya sudah belajar membuat peralatan Musik Bambu  sejak tahun 1969. Dan hingga kini saya sudah mewariskan kearifan ini ke hampir semua kampung yang ada di Sangihe".

Ayah dari tiga orang anak ini kemudian memperlihatkan bekas luka sobek di tangannya. Luka itu menjadi semacam prasasti bagi jejaknya dalam melestarikan kesenian tradisional orang Sangihe selama 46 tahun. "Ada 18 jahitan untuk menutupi luka ini. Kecelakaan itu terjadi saat saya masih menggunakan pisau melubangi bambu untuk peralatan musik. Pisaunya terpeleset dan merobek tangan saya," kata Agustinus. Tetapi bukannya berhenti dari pekerjaannya, Agustinus justru menganggap luka yang merobek tangannya itu justru menjadi pelecut baginya untuk terus menemukan cara terbaik membuat Musik Bambu.

Dari tahun ke tahun, Agustinus terus berkreasi menciptakan cara yang inovatif menjadikan Musik Bambu tak sekadar terlihat menoton. Dia juga menciptakan alat kerjanya sendiri sejak tahun 1980. Kini lewat kreasi Agustinus, musik bambu asal Sangihe tampil dengan berbagai bentuk yang inovatif. Beberapa peralatan musik tiup tersebut bahkan terlihat seperti bentuk saxophone modern, terompet dengan berbagai lekuk pipanya dan berbagai bentuk inovatif lainnya. Semuanya dari bambu.

Lewat bengkel kerjanya yang sederhana di belakang rumah, Agustinus tidak hanya menghasilkan ratusan set peralatan Musik Bambu, tetapi dia juga sudah mewariskan ilmunya tersebut ke berbagai orang dengan tujuan agar kesenian tradisional itu tetap lestari. "Saya sering terima order pembuatan satu set, itu bisa memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Dan saya suka membuatnya di kampung mereka, agar mereka juga bisa belajar bagaimana membuatnya, supaya lebih banyak yang tahu," kata Agustinus.

Alhasil Agustinus dengan sendirinya menjadi pewaris seni dan budaya daerah. Menariknya, sosok sederhana ini bukan hanya sebagai pembuat Musik Bambu, tetapi dia juga tampil sebagai pelatih dan arranger lagu yang dibawakan. Tidak mudah mengaransemen partitur musik bambu yang sedikitnya terdiri dari 40 jenis peralatan musik tersebut. Ini sama halnya dengan mengaransemen sebuah orkestra.

Pernah satu waktu Agustinus diminta melatih kelompok Musik Bambu di Pulau Nanekele yang hampir semua warganya belum bisa baca tulis. Mereka hidup sebagai nelayan tradisional dan jauh dari perkembangan modern karena transportasi laut yang masih susah waktu itu.

Dedikasi Agustinus dalam menjaga kelestarian kesenian itu, membuatnya sering diundang dalam berbagai kegiatan budaya. Dia bersama grupnya Welengang Pontolawokang Sawang Jauh banyak kali diundang tampil di luar provinsi, seperti di Jawa,Kalimantan dan Papua.

Terakhir kali mereka tampil pada Perayaan Natal Nasional yang dihadiri Presiden Jokowi di Papua. "Sewaktu di Papua itulah saya ditelepon panitia seleksi Kehati. Mereka tanya-tanya saya, dan eh tahunya saya kemudian diundang ke Jakarta menerima penghargaan itu. Saya sangat gembira, istri saya menangis karena ada yang memberikan kami penghargaan. Terima kasih bagi yang sudah mengusulkannya," ujar Agustinus.
[xyz-ihs snippet="Kerajinan-Indonesia"]

diolah dari : Kompas

Post Top Ad

MAIN MENU