Kamis, 06 Juli 2017

Berugak Sebagai Kerajinan Cermin Inklusifitas Masyarakat Lombok

Lombok - Tepatnya di kota Mataram kita dapat menemukan kerajinan furniture dalam dimensi yang besar berbentuk balai kecil berbentuk segi empat atau segi enam yang di namakan Berugak.


Berugak merupakan cerminan sifat terbuka dari orang Lombok yang terbuka ramah dan juga inklusif, di tandai dengan dapat di gunakannya berugak oleh siapa saja, terletak di luar rumah dan tanpa tembok, sehingga dapat di lihat orang dari segala arah.

Berugak  memegang peranan yang penting dalam kehidupan sosial Lombok, dimana Berugak biasa di gunakan untuk berkegiatan sehari hari, termasuk juga berdoa,, bersantai, bersosialisasi bahkan untuk pertemuan. Kerajinan dari bambu tersebut dapat di temukan banyak di buat di daerah Gunung Sari yang terletak sekitar 5 kilometer di arah utara kota Mataram.
berugak

Dalam setiap workshop, rata rata pengrajin mampu menghasilkan belasan unit dalam satu bulan. Setiap pembuatan Berugak  biasa di kerjakan oleh 2 orang hingga selesai dengan memakan waktu 3 hari kerja. Untuk jenis Berugak ada 2 yang umum di kenal oleh masyarakat, yaitu berugak segi empat ( sekempat) dan segi enam (sekenam), untuk ukuran sekepat berkisar 2 x 1.5 hingga 2 x 2.5 meter, dan untuk yang sekenam ada yang berukuran 3 x 6 hingga 3 x 8 meter.

Konstruksi Berugak  yang dimana potongan horisontal dan vertikalnya tidak menggunakan paku membuat pengrajinnya harus memiliki keahlian khusus. Dengan cara tertentu bangunan kerajinan bambu tersebut bisa berdiri dengan kokoh selayaknya menggunakan paku.

Berugak  buatan Gunung Sari biasanya di kenakan harga 3 – 3.5 juta untuk sekepat, untuk yang lebih besar yaitu berugak sekenam lebih mahal lagi, berada di kisaran 7.5 hingga 10 juta rupiah. Selain ukuran yang menjadi pembeda dalam harga, tapi juga bentuk dan jenis kayu yang di gunakan akan mempengaruhi harga kerajinan tersebut.

Post Top Ad

MAIN MENU