Selasa, 17 Januari 2017

Kerajinan kuningan di DIY Kalah dengan Tiongkok, Nilai Ekspor Turun

Kerajinan kuningan di DIY pernah mengalami masa jaya pada 2005. Namun, kondisi saat ini menunjukkan produk kuningan DIY untuk pasar ekspor kalah dengan Tiongkok.

Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY Syahbenol Hasibuan menjelaskan, setelah DIY diguncang gempa dan efek globalisasi, kerajinan kuningan semakin tenggelam khususnya untuk mengisi pasar ekspor. Terlebih lagi setelah produk kuningan dari Tiongkok muncul, sehingga nilai ekspor kuningan DIY anjlok. “Mereka pakai cetakan dan produksinya lebih cepat, kalau kita masih manual jadi kalah saing,” ujar dia kemarin.

Ia menjelaskan, penurunan nilai ekspor kuningan DIY mencapai 40%. Penurunan tersebut dinilai sangat besar. Pada 2016, volume ekspor hanya 7.043,84 kg dengan nilai US$115.095,70. Sementara itu, kelesuan pasar ekspor juga diikuti pasar lokal tidak begitu besar. “Kalau pasar ya ada pasarnya, istilahnya mengalir tapi tidak besar. Di pasar nasional saja kita kalah dari Bandung dan Bali,” papar dia.

Kerajinan kuningan di Bandung saat ini sudah mengarah pada barang fungsional, sedangkan di DIY masih pada barang dekorasi. Pemerintah diharapkan bisa lebih memfasilitasi misalnya melalui Kementerian Perindustrian baik untuk perajin secara individu maupun kelompok. “Kami di Dekranasda berusaha ikut mengembangkan dengan memberikan kesempatan semua unsur kerajinan untuk ikut pameran,” kata dia.

Secara rinci ia menyebutkan, terdapat 20 perajin kuningan untuk gamelan, sembilan perajin alat rumah tangga kuningan, 44 penyedia jasa cor aluminium dan kuningan, 10 perajin engsel/ring kuningan, dan sembilan peranin mebeli besi kuningan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Tri Saktiyana berujar ada dua arah untuk kerajinan tangan yakni apakah bergerak sebagai industri yang masif, atau menojolkan seninya. “Nah, kalau memilih untuk menonjolkan seninya, tentu pesanan tidak sebesar industri, tapi nilainya lebih besar. Kalau industri ya produksinya yang besar. Kalau kerajinan tangan melawan manufaktur ya susah,” ungkap dia.

Ia mengatakan, keinginan konsumen juga mengalami pergeseran. Konsumen memilih barang yang bagus dengan harga yang murah. Oleh karena itu, Pemerintah dan perajin perlu melakukan edukasi kepada konsumen mengenai kerajinan tangan yang memiliki kualitas tinggi dan dikerjakan dengan tangan.

 

Sumber: http://www.harianjogja.com/

Post Top Ad

MAIN MENU