Sabtu, 12 November 2016

Olah Limbah Gonggong Jadi Kerajinan Tangan

Kreativitas adalah cara mengapresiasikan diri dengan menggunakan berbagai cara yang merupakan hasil dari ide dan pemikiran. Seperti membuat suvernir yang diolah menggunakan limbah gonggong dan kerang yang bisa dirubah menjadi karya seni yang mempunyai nilai jual tinggi.

Hal tersebut dilakukan Irwansyah, 35 yang membuka galeri Gonggong Emas Handycraft di jalan Bhayangkara Gang Rokan Tanjungpinang. Dengan ketekunan dan keuletannya, limbah buangan diubah menjadi produk kerajinan seperti tepak sirih, tempat tisu, jam dinding, asbak, miniatur plakat, gantungan kunci dan hiasan dinding dan masih banyak lagi.
Hanya bermodal kulit gonggong, kerang, pasir pantai, lem, triplek bekas, bahan pewarna, cat pernis dan alat pemotong seperti gerinda potong dan gergaji ukir, semua limbah diolah menjadi kerajinan yang mampu bersaing dan menjadi karya seni bernilai jual tinggi.
Memulai usaha sejak tahun 2012, Irwan panggilan akrabnya mengatakan proses pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar limbah ini tidaklah sulit, tapi membutuhkan ketekunan dan kreatifitas untuk menciptakan suatu produk kerajinan. ”Membuatnya tidak sulit, tapi butuh ide kreatif dan pemikiran yang matang,” katanya.
Irwan pada waktu senggangnya mengaku selalu mengumpulkan kulit gonggong dan kerang yang terbuang dan triplek yang tidak terpakai. Lalu ia mengambil pasir pantai yang tidak jauh dari rumahnya. ”Bahan dasar seperti kulit gonggong sangat penting, jadi harus dikumpulkan terlebih dahulu,” katanya.
Setelah bahan bahan terkumpul, proses pertama yang dilakukan untuk membuat kerajinan tangan seperti tempat tisu atau tepak sirih adalah memotong kulit gonggong menjadi beberapa bagian. Lalu memotong triplek bekas sesuai kebutuhan. Setelah triplek berbentuk segi empat, diberi lem untuk menempelkan pasir yang telah diberi pewarna.
Setelah kering, kotak segi empat yang telah dilapisi pasir, lalu ditempelkan potongan potongan kulit gonggong. Untuk tahap penyelesaian, kerajinan tersebut akan di cat pernis untuk menambah keindahan. ”Untuk pengolahan satu jenis kerajinan, dibutuhkan waktu dua hingga tiga hari,” jelas Irwan.
Irwan yang pernah mengikuti pelatihan kerajinan limbah kekerangan di Kepulauan Seribu ini menuturkan kerajinan tangan yang ia hasilkan tidak hanya dipasarkan di Tanjungpinang saja, tetapi juga merambah pasar luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. ”Biasanya saya dapat pesanan tepak sirih dari orang Singapura dan Malaysia untuk keperluan pernikahan,” tuturnya.
Untuk harganya, Irwan mengatakan kerajinan tangan buatannya sangat terjangkau. Mulai dari harga Rp 4000 hingga Rp 500ribu untuk setiap produk kerajinan. ”Tidak begitu mahal, sesuailah dengan bentuk dan motifnya,” katanya.
Untuk memasarkan kerajinan tangan buatannya, Irwan mengaku menitipkan di sejumlah pasar oleh oleh di Tanjungpinang. Ia juga selalu mengikuti kegiatan pameran-pameran kerajinan tangan untuk memperkenalkan produknya. ”Alhamdulillah dengan mengikuti pameran kerajinan dan seni, banyak yang kenal kerajinan tangan buatan saya,” akunya.
Irwan mengatakan banyak potensi yang dapat digali di Tanjungpinang untuk berkarya dan menjadi suatu keharusan untuk membangun Tanjungpinang dari sektor ekonomi. ”Dengan adanya karya seni ini, dapat membuat wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Tanjungpinang, dan membeli produk yang benilai seni ini sebagai buah tangan,” harapnya.

Sumber http://indopos.co.id/

Post Top Ad

MAIN MENU